Menteri Kebudayaan Berikan Penguatan pada Peran Kuliner dalam Diplomasi Budaya
Dalam sebuah acara yang dihadiri oleh berbagai pihak terkait, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, DR. Fadli Zon menyampaikan bahwa kuliner Indonesia tidak hanya sekadar makanan, tetapi juga menjadi sarana penting dalam diplomasi budaya. Hal ini disampaikannya saat menghadiri Festival Tumpeng Nusantara 2025 di Hotel Borobudur Jakarta.
Festival ini diselenggarakan oleh Indonesian Gastronomy Community (IGC) bersama Hotel Borobudur Jakarta dan Asosiasi Perusahaan Jasaboga Indonesia (APJI), dengan tema utama “Tumpeng: Makanan Kebanggaan yang Menyatukan Nusantara.” Acara ini bertujuan untuk memperkenalkan kembali nilai-nilai budaya melalui hidangan tradisional yang memiliki makna mendalam.
Tumpeng sebagai Simbol Budaya
Menurut Menteri Fadli, tumpeng bukan hanya sekadar hidangan, melainkan simbol dari rasa syukur, kebersamaan, dan doa. Keberadaannya dalam berbagai acara adat, perayaan, atau momen penting menunjukkan betapa kuatnya nilai filosofi yang terkandung di dalamnya.
Ia menekankan bahwa Festival Tumpeng Nusantara 2025 bukan hanya ajang untuk memperkenalkan kuliner tradisional, tetapi juga momentum penting dalam memperkuat identitas budaya bangsa di tengah arus modernisasi dan globalisasi.
Buku Tumpeng Indonesia sebagai Referensi Budaya
Di tempat yang sama, Ria Musiawan, Ketua Umum IGC, menjelaskan bahwa dalam festival ini, IGC menerbitkan buku Tumpeng Indonesia. Buku ini dirancang sebagai referensi bagi pecinta kuliner, akademisi, pelaku industri makanan, serta masyarakat umum yang ingin lebih memahami tentang tumpeng sebagai bagian dari warisan gastronomi Nusantara.
Melalui buku ini, IGC ingin mengabadikan filosofi, sejarah, dan keanekaragaman tumpeng dalam satu karya referensi yang otentik dan inspiratif. Tumpeng, menurutnya, bukan hanya sekadar hidangan, tetapi juga simbol perayaan, kebersamaan, dan nilai budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Festival sebagai Bentuk Cinta Tanah Air
Sementara itu, Tashya Megananda Yukki, ketua Asosiasi Pengusaha Jasa Boga Indonesia (APJI), melihat Festival Tumpeng Nusantara 2025 sebagai bentuk nyata cinta tanah air melalui kekayaan rasa dan budaya. Ia menilai bahwa tumpeng harus dilestarikan agar anak muda dan generasi bangsa di masa depan dapat mengenal dan menghargai tradisi kuliner Nusantara.
Karina Eva Poetry, Director of Marketing Communications Hotel Borobudur, menjelaskan bahwa hotel ini mendukung pariwisata berkelanjutan melalui inisiatif seperti festival Tumpeng. Tema yang diusung dalam festival ini adalah untuk menyatukan dan menghidupkan kembali warisan kuliner budaya Indonesia.
Kompetisi dan Pameran Tumpeng
Selain kompetisi, pengunjung juga dapat menikmati Pameran Tumpeng yang menampilkan 10 jenis tumpeng berbeda. Setiap jenis tumpeng memiliki makna, asal-usul, dan tujuan unik yang mencerminkan kekayaan budaya Nusantara.
Kompetisi Tumpeng Selamat diikuti oleh 16 peserta dari berbagai sekolah dan lembaga pendidikan. Tujuan dari kompetisi ini adalah untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap tradisi kuliner Nusantara sekaligus menguji kreativitas mereka dalam menyajikan Tumpeng Selamat sebagai warisan budaya yang hidup. Pemenang dari kompetisi ini adalah peserta dari Universitas Asaindo.
Dokumentasi Warisan Kuliner
Arief Djoko Budiono, selaku koordinator penerbitan, menjelaskan bahwa tujuan dari penerbitan buku Tumpeng ini adalah melestarikan warisan kuliner Indonesia dengan mendokumentasikan sejarah, filosofi, dan variasi tumpeng dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk resep-resep autentik dan inovatif.
Ketua Dewan Pakar Pudyotomo A. Saroso menambahkan bahwa tujuan kedua dari penerbitan buku ini adalah menginspirasi generasi muda dengan mengenalkan nilai-nilai budaya melalui makanan. Dengan demikian, generasi penerus akan lebih memahami dan bangga terhadap warisan kuliner Indonesia.
Comments
Post a Comment